Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2008

ESWL: Menghancurkan Batu Ginjal dari Luar Tubuh (1)

Artikel Iptek - Bidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan
ESWL: Menghancurkan Batu Ginjal dari Luar Tubuh (1)

Saat ini di Indonesia masih banyak yang belum mengenal Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), sebagai salah satu terapi penyembuhan penyakit batu ginjal. ESWL sebenarnya sudah bukan merupakan barang asing dalam dunia kedokteran khususnya bagi para urologis. Sejak diperkenalkan penggunaannya di awal tahun 1980-an, ESWL semakin populer dan menjadi pilihan pertama dalam kasus umum penanganan penyakit batu ginjal.

Beberapa keuntungan dari ESWL diantaranya adalah dapat menghindari operasi terbuka, lebih aman, efektif, dan biaya lebih murah, terutama untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga tidak memerlukan perlakuan berkali-kali.

ESWL merupakan terapi non-invasif, karena tidak memerlukan pembedahan atau memasukkan alat kedalam tubuh pasien. Sesuai dengan namanya, Extracorporeal berarti di luar tubuh, sedangkan Lithotripsy berarti penghancuran batu, secara harfiah ESWL memiliki arti penghancuran batu (ginjal) dengan menggunakan gelombang kejut (shock wave) yang ditransmisi dari luar tubuh.

Dalam terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu ginjal sampai hancur dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga dapat dikeluarkan secara alamiah dengan urinasi. Ilustrasi sederhana teknik ESWL dapat dilihat pada Gambar 1.



Gambar 1. Penampang interior ginjal A) Sebelum penembakan, B) Gelombang kejut yang difokuskan pada batu ginjal, C) Tembakan dihentikan hingga serpihan batu cukup kecil untuk dapat dibuang secara natural bersama air seni


Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agar shock wave yang ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu, sehingga alat ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat bersamaan dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal akibat salah tembak.

Sejarah lithotripter

Ide penggunakan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang. Jerman tercatat sebagai negara yang mempelopori pengembangan ESWL. Pada awalnya riset yang digulirkan hanya ingin mempelajari interaksi antara shock wave dengan biological tissue pada hewan.

Riset ini dilakukan antara tahun 1968 sampai 1971 di Jerman, dilatarbelakangi oleh adanya insiden salah seorang pegawai perusahaan Dornier (saat ini perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan pembuat mesin lithotripter) secara tidak sengaja tersengat shock wave pada saat eksperimen.

Salah satu hasil dari riset ini adalah ditemukan bahwa shock wave mengakibatkan efek samping yang rendah pada otot, lemak, dan jaringan sel tubuh, dan bone tissue (jaringan tulang) tidak mengalami kerusakan saat dilalui oleh shock wave.

Hasil penelitian ini kemudian membawa lahirnya ide penggunaan shock wave untuk menghancurkan batu ginjal dari luar tubuh. Pada tahun 1971, Haeusler dan Kiefer telah memulai eksperimen in-vitro (dilakukan di luar tubuh) penghancuran batu ginjal dengan shock wave. Kemudian pada tahun 1974 pemerintah Jerman secara resmi memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL.

Selanjutnya pada awal tahun 1980 pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich menggunakan mesin Dornier Lithotripter HM1. Sejak saat itu eksperimen lanjutan dilakukan secara intensif dengan in-vivo (dilakukan di dalam tubuh) maupun in-vitro. Akhirnya mulai tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di rumah sakit di Jerman.

Bagaimana lithotripter bekerja?

Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengetahui cara lithotripter bekerja, yaitu bagaimana shock wave dihasilkan, kemudian merambat masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan sasarannya, tanpa merusak media yang dilewatinya.

Saat ini ada 3 jenis pembangkit shock wave yang digunakan dalam ESWL: electrohydraulic, piezoelectric, dan electromagnetic generator. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda, namun ketiganya menggunakan air sebagai medium untuk merambatkan shock wave yang dihasilkan.

Electrohydraulic generator menggunakan spark gap untuk membuat "ledakan" di dalam air. Ledakan ini kemudian menghasilkan shock wave. Sedangkan piezoelectric generator, memanfaatkan piezoelectric efek pada kristal. Sedangkan electromagnetic generator, menggunakan gaya elektromagnetik untuk mengakselerasi membran metal secara tiba-tiba dalam air untuk menghasilkan shock wave.

Dari 3 jenis generator di atas, electrohydraulic lithotripter merupakan lithotripter yang paling banyak digunakan saat ini [1]. Diagram skematik dari lithotripter ini dapat dilihat pada Gambar 2.



Gambar 2. Diagram skematik electrohydraulic lithotripter


Pada awalnya, shock wave yang dihasilkan generator hanya memiliki tekanan yang rendah, kemudian difokuskan pada satu lokasi dimana batu ginjal berada. Hanya pada titik fokus inilah shock wave memiliki tekanan yang cukup besar untuk menghancurkan targetnya, sehingga tidak akan merusak bagian di luar daerah fokus ini.

Dalam proses pengobatan, karena titik fokus lithotripter ini sudah fixed, sebaiknya posisi pasien digeser sedemikian rupa sehingga batu ginjal tepat berada dalam titik fokus tersebut. Untuk menghantarkan shock wave dari lithotripter ke tubuh pasien, digunakan air atau gelatin sebagai media perantaranya, dikarenakan sifat akustik keduanya paling mendekati sifat akustik tubuh (darah dan jaringan sel tubuh), sehingga pasien tidak akan merasakan sakit pada saat shock wave masuk ke dalam tubuh.

ESWL di Indonesia

Saat ini penulis belum memiliki data pasti tentang berapa banyak rumah sakit di Indonesia yang telah melayani prosedur ESWL. Mengingat harga lithotripter yang cukup mahal mungkin hanya rumah sakit besar saja yang telah memiliki alat ini. Mengenai biaya pengobatan dengan ESWL sangat tergantung berapa kali tindakan ESWL yang diperlukan sampai pasien benar-benar bebas dari batu ginjal.

Di Amerika, rata-rata pasien menjalani 1.5 kali tindakan ESWL [2] sampai benar-benar bebas dari batu ginjal. Namun jika merujuk pada artikel kesehatan di Indosiar pada 14 Januari 2006 lalu (http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=48134) yang menyatakan bahwa untuk sekali tindakan ESWL diperlukan biaya sekitar 4,5 juta rupiah, maka dapat dikatakan bahwa terapi ini selain menawarkan keamanan dan kenyamanan, juga menawarkan biaya pengobatan yang relatif murah.

Daftar bacaan

1. JE Lingeman, in New developments in the management of urolithiasis, Igaku-Shoin, New York, 1996.
2. Andrew Street, Working Paper 29, Center for Health Program Evaluation, 1993.

Sandro Mihradi, mahasiswa program Doktor di Toyohashi University of Technology, Jepang. Email: sandro.m@gmail.com

ESWL: Menghancurkan Batu Ginjal dari Luar Tubuh (2)

Artikel Iptek - Bidang Biologi, Pangan, dan Kesehatan
ESWL: Menghancurkan Batu Ginjal dari Luar Tubuh (2)

Seiring dengan makin majunya teknologi kedokteran dalam terapi penyakit batu ginjal, maka saat ini semakin besar peluang pasien untuk dapat menghindari operasi terbuka untuk mengeluarkan batu ginjal dari dalam tubuhnya. Terapi batu ginjal dimulai dari terapi natural atau pasif, yaitu dengan meminum obat-obatan tertentu untuk membantu meluruhkan batu ginjal secara kimia, kemudian ke terapi aktif, dimulai dari yang bersifat non-invasive seperti ESWL, kemudian terapi minimal-invasive seperti Percutaneous Nephrolithotomy (PNL) dan Ureteroscopy (URS), dan akhirnya sebagai pilihan terakhir adalah operasi terbuka.

Seperti telah dijelaskan dalam tulisan pertama, ESWL adalah terapi yang menggunakan gelombang kejut (shock wave), yang ditembakkan dari luar tubuh ke arah batu ginjal sampai batu ginjal tersebut hancur dan ukuran serpihannya cukup kecil hingga dapat dikeluarkan secara natural dengan urinasi. Dikatakan sebagai terapi non-invasive, karena tidak memerlukan pembedahan atau memasukkan alat kedalam tubuh pasien. Sedangkan PNL dan URS dikatakan sebagai terapi minimal-invasive karena memerlukan sedikit pembedahan dengan memasukkan alat kedalam tubuh untuk menghancurkan dan mengeluarkan batu ginjal.

Dalam terapi PNL, guide wire dimasukkan melalui kulit dekat pinggang kemudian dengan membuat lubang kecil menembus masuk ke dalam ginjal sampai ia menemukan posisi batu ginjal. Sejenis tabung kecil kemudian dimasukkan sepanjang guide wire untuk membuat tunnel, dimana nantinya lewat tunnel ini dimasukkan instrumen kecil untuk menghancurkan batu ginjal dan mengeluarkan serpihannya. Sedangkan URS prinsip kerjanya mirip dengan PNL, namun dalam URS digunakan alat yang dinamakan ureteroscopes, dimana alat ini dimasukkan melalui urethra (saluran kencing), kemudian melalui bladder (kandung kemih) dan ureter (saluran kemih), sampai menemui posisi batu ginjal.

Dari beberapa terapi di atas, ESWL merupakan terapi pilihan pertama untuk kasus umum penanganan batu ginjal dikarenakan keamanan, keefektifan serta kefleksibelannya terhadap posisi batu ginjal. Sebagai perbandingan, terapi PNL hanya efektif untuk penanganan batu ginjal yang masih berada dalam ginjal atau atau yang berada pada ureter bagian atas. Sedangkan terapi URS efektif pada batu ginjal yang berada pada ureter bagian bawah atau pada kandung kemih. Kemudian dari segi keamanan dan kenyamanan, pasien yang diterapi dengan ESWL pada umumnya tidak memerlukan obat bius atau penahan sakit saat terapi dilakukan, dan sudah dapat melakukan aktifitas seperti biasa dalam satu atau dua hari setelah terapi. Sedangkan untuk PNL dan URS diperlukan waktu pemulihan sekitar satu sampai dua minggu, dan waktu pemulihan yang lebih panjang dibutuhkan lagi bagi pasien yang menjalani operasi terbuka , yaitu sekitar enam minggu [1].

Dari berbagai referensi diperoleh data bahwa tingkat keberhasilan terapi ESWL sampai pasien benar-benar bebas dari batu ginjal adalah antara 60 sampai 90 persen. Tingkat keberhasilan ini sangat ditentukan diantaranya oleh besar, jenis, dan lokasi dari batu ginjal tersebut.

Bagaimana shock wave menghancurkan batu ginjal?

Dari hasil observasi pada proses ESWL, ditemukan bahwa pada awalnya batu ginjal yang ditembak dengan shock waves pecah menjadi dua atau beberapa fragment besar [2]. Selanjutnya dengan bertambahnya jumlah tembakan, fragment tersebut pecah kembali dan hancur. Umumnya diperlukan sekitar 1000 sampai 5000 tembakan sampai serpihan-serpihan batu ginjal tersebut cukup kecil untuk dapat dikeluarkan dengan proses urinasi.

Proses hancurnya batu ginjal diprediksi merupakan hasil kombinasi dari efek langsung maupun tidak langsung dari shock waves. Untuk dapat menjelaskan proses hancurnya batu ginjal, terlebih dahulu kita perlu mengetahui profil dari shock wave yang dihasilkan di titik fokus penembakan. Hasil pengukuran tekanan pada titik fokus penembakan dapat dilihat dalam Gambar 1. Secara umum, shock wave ditandai dan diawali oleh high positive pressurecompressive wave) dengan durasi singkat sekitar satu mikrodetik, kemudian diikuti oleh negative pressure (tensile wave) dengan durasi sekitar tiga mikrodetik.

(

Gambar 1. Shock wave profile, diukur pada titik fokus penembakan [3]

High positive pressure di dalam batu ginjal akan mengalami refraksi dan refleksi, dan akhirnya membangkitkan tensile dan shear stress di dalam batu ginjal. Selanjutnya retak akan terjadi dan merambat hingga menyebabkan batu pecah menjadi dua atau beberapa fragment besar. Pada saat yang sama, tingginya compression stress dapat menyebabkan erosi pada permukaan batu ginjal. Proses di atas dikatakan sebagai efek langsung dari shock wave.

Sedangkan negative pressure pada Gambar 1, akan mengakibatkan munculnya cavitation bubbles pada fluida di sekitar batu ginjal dan ini dikatakan sebagai efek tidak langsung dari shock wave. Cavitation bubbles ini kemudian akan collapse menghujam permukaan batu ginjal dan menyebabkan erosi. Ilustrasi dari proses ini dapat dilihat pada Gambar 2.


Gambar 2. Ilustrasi efek langsung dan tidak langsung dari shock wave pada batu ginjal [4]

Beberapa tantangan ESWL

Walaupun ESWL telah terbukti keandalannya, namun ia masih menyisakan beberapa tantangan. Diantaranya adalah rendahnya tingkat keberhasilan ESWL (dengan satu kali tindakan) pada pasien yang memiliki batu ginjal dengan diameter lebih dari dua sentimeter, dan pada batu yang berjenis Cystine. Selain itu masih didapatinya laporan terjadinya injury pada ginjal yang kemungkinan besar disebabkan oleh cavitation.

Saat ini berbagai riset masih intensif dilakukan untuk mengatasi beberapa masalah di atas. Diharapkan pada akhirnya akan dapat dikembangkan teknologi baru yang dapat meningkatkan efisiensi lithotripter dalam menghancurkan batu ginjal dan disaat yang bersamaan dapat meminimalkan injury pada ginjal. (Selesai).

Daftar bacaan

1. American Urological Association, The Management of Ureteral Stones, 1997.
2. Eisenmenger W., The Mechanisms of Stone Fragmentation in ESWL, Ultrasound in Medicine and Biology, Vol. 27, No. 5, 2001.
3. Robin O. et al., Design and characterization of a research electrohydraulic lithotripter patterned after the Dornier HM3, Review of Scientific Instruments, February 26, 2000.
4. Jens J. Rassweiler et al., Progress in Lithotripter Technology, EAU Update Series, No. 3, 2005.

Sandro Mihradi, mahasiswa program Doktor di Toyohashi University of Technology, Jepang. Email: sandro.m@gmail.com

Sabtu, 15 November 2008

Teknologi Informasi untuk Membantu Operasi Bedah Syaraf

Teknologi Informasi untuk Membantu Operasi Bedah Syaraf

Di bidang bedah saraf, hampir semua teknik operasi yang dilakukan bersifat invasif dengan kata lain harus dengan membuat luka sayatan dan membuka tulang tengkorak untuk mengakses kedalam jaringan otak atau yang biasa disebut sebagai craniotomy. Dengan berkembangnya teknologi informasi, teknik bedah saraf menjadi lebih maju. Teknologi informatika dapat membantu membuat pemetaan pada fungsi otak sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi defisit fungsi saraf (neurological deficit) yang diakibatkan oleh tindakan operatif.

Demikian pula perkembangan teknologi pencitraan modern saat ini telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi keberhasilan operasi bedah saraf. Visualisasi dengan menggunakan mikroskop pada waktu operasi, meningkatkan keberhasilan dan keamanan bagi penderita pasca operasi. Lebih canggih lagi, alat endoskopi telah banyak membantu para ahli bedah saraf untuk melihat setiap sudut di dalam otak manusia untuk menentukan posisi aneurism (pembesaran pembuluh darah) di otak sebelum dilakukan clipping (menjepit pembuluh darah yang beresiko terjadi ruptur/pecah).

Pada dekade terakhir, tindakan bedah saraf dengan computer-assisted image-guidedneuronavigation) telah dikembangkan untuk membantu ahli bedah saraf melakukan tindakan operasi lebih aman. Neuronavigation memungkinkan para ahli bedah saraf mengetahui lokasi lesi/tumor secara lebih akurat, dengan cara menentukan besarnya lesi/tumor dan menentukan teknik operasi yang tepat untuk mendekati lesi/tumor tersebut. Saat ini telah tersedia sistem navigasi berbentuk frame-based atau frameless berdasarkan pada teknik perbedaan posisi lesi/tumor sebagai titik poin dengan memakai integrated poin optik atau sistem elektromagnetik. (

Selanjutnya, semua jenis sistem pencitraan yang menunjang pada saat dilakukan operasi bedah saraf ini memerlukan data pencitraan yang diperoleh dari CT scan (computed tomograph scanning), MRI (magnetic resonance image) dan juga integrated functional MRI, positron emission tomography, serta magnetoencephalography yang diambil sebelum operasi dilakukan. Sehingga dengan demikian belum ada satu sistem yang dapat mendeteksi perubahan dalam otak secara berkesinambungan selama operasi berlangsung seperti pergeseran otak akibat bocornya cairan serebrospinal (cairan dalam otak), pengambilan tumor, maupun perubahan bentuk otak akibat perubahan posisi pasien.

Disinilah kemahiran ahli bedah saraf dalam menggabungkan teknologi informasi dan teknik operasi diperlukan. Seorang ahli bedah saraf harus bisa menentukan jenis alat pencitraan yang mana yang diperlukan untuk membantu navigasi saat dilakukan operasi. Diantara mereka ada yang menggunakan sistem navigasi berdasarkan data pencitraan yang diambil sebelum dilakukan operasi, lalu ada pula yang menggunakan 3D ultrasonografi yang dapat digunakan real time pada saat operasi berlangsung. Bila data diambil sebelum dilakukan operasi, maka hasil pencitraan ini akan bermanfaat pada saat menentukan petanda lokasi tumor sebelum dilakukan reseksi (pengambilan tumor) dengan cara membuat garis disekitar batas tumor dengan bantuan pena khusus yang dapat memancarkan sinyal lalu titik posisi pena tersebut ditransmisikan dan diproyeksikan dalam gambar yang sudah ada (gambar.1).

Gambar. 1: Pencitraan 3D sebelum dilakukan operasi untuk menentukan letak lesi/tumor

Salah seorang ahli bedah saraf, Wiltfang. J. dkk (2003) dari Friederich-Alexander University, Erlangen Jerman, melaporkan bahwa, teknik operasi di bagian depan (frontal), tengah dan samping (peritemporal access) kepala memberikan berbagai macam gambaran klinis sesuai dengan letak lesi/tumor tersebut. Neuronavigasi dapat memberikan gambaran secara detail tentang besar, struktur anatomi pembuluh darah di sekitar lesi/tumor. Struktur tulang juga dapat terlihat dengan sangat jelas, baik pada bagian depan, tengah dan belakang dari tulang dasar tengkorak dan memberikan gambaran yang simetris serta memiliki arti klinis yang sangat bermakna (gambar.2).

Gambar. 2: Pencitraan 3D CT scan memberikan gambaran detail struktur anatomi, lesi, tumor.

Teknologi informatika telah banyak memberikan kontribusi dalam dunia kedokteran umumnya dan khususnya bagi bedah saraf. Akan tetapi, tidaklah bisa dipungkiri pula bahwa keberhasilan operasi tidak melulu bergantung terhadap alat penunjang, tapi juga keterampilan seorang ahli bedah saraf saat menggunakan jari-jari tangannya untuk menolong penderita, adalah merupakan kunci keberhasilan saat operasi. "chirurgia = hand work = General surgery and micro-chirurgia = finger work = neurosurgery" (Takanori Fukushima,MD)

Referensi
1. Rutten GJ, Ramsey N, Noordmans HJ, Willem P, Rijen P, Sprenkel JWB, Viergever M, Veelen C. Towards functional neuronavigation: implementation of functional magnetic resonance imaging data in a surgical guidance system for introperative identification of motor and language cortices. Neurosur. Focus 2003. 15 (1)
2. Tronnier VM, Bonsanto MM, Staubert A, Knauth M, Kunze S, Wirtz CR. Comparison of intraoperative MR imaging and 3D-navigated ultrasonography in the detection and resection control of lesions. Neurosurg. Focus 2001. 10(2)
3. Wiltfang J, Rupprecht S, Ganslandt O, Nimsky C, Kebler P, Schultze-Mosgau S, Fahlbusch R, Neukam FW. Intraoperative image-guided surgery of lateral and anterior skull base in patients with tumors or trauma. Skull base 2003. 13(1): 21-29

Penulis:

Agung Budi Sutiono, MD, PhD (candidate)
Medical Informatics Research
Graduate School Information Systems, National University Electro-Communications
1-5-1 Choufugaoka, Choufushi, Tokyo Japan
And
Residency program
Neurosurgery Department Keio University Hospital
35 Shinanomachi, Shinjuku-ku, Tokyo Japan
Tel. +81-424-435664
Fax. +81-424-435682
agungbudis at yahoo.com
agungbudis at ohta.is.uec.ac.jp

Bayi Dapat Memperbaiki Otak Ibunya


Setiap orang tahu bahwa bayi membawa otak yang menurun dari orang tuanya. Namun sekarang nampak diketahui bahwa hal sebaliknya bisa terjadi, yaitu bayi memperbaiki otak ibunya. Sel batang (stem cell, sel yang dapat menghasilkan jenis-jenis sel organ), yang kesasar dari janin yang sedang tumbuh dapat mendiami otak ibunya selama mengandung, paling tidak ini terjadi pada tikus.

Jika temuan ini juga terjadi pada manusia, maka dapat berimplikasi besar pada bidang medis. Hasil awal memberi petunjuk bahwa sel janin terkumpul dan dapat memperbaiki kerusakan pada otak ibunya. Apabila ini terbukti, maka akan memberi hal baru cara lebih aman untuk mengobati kerusakan otak yg diakibatkan oleh stroke atau penyakit Alzheimer misalnya.

Meski masih jalan panjang, namun ada alasan rasional bahwa sel batang dari janin suatu saat dapat berperan sebagai paket perbaikan otak. Sudah diketahui bahwa selama kehamilan sejumlah kecil sel batang tersasar melewati plasenta dan masuk ke aliran darah ibunya. Fenomena ini disebut microchimerism. Sel ini dapat bertahan di jaringan seperti kulit, hati, limpa selama puluhan tahun yang kemudian menunjukkan kemampuan memperbaiki kerusakan jaringan. (em/newscientist)

Minggu, 09 November 2008

Alarm Pada Mamalia

Posted by andyan in Animal.
trackback

Mamalia, termasuk manusia, memiliki alarm di ujung hidung untuk mendeteksi bahaya.

Sensor kecil ini, ditemukan pada tikus, digunakan untuk menerima pesan bahaya kimia yang dikirimkan oleh sesamanya.

Banyak tumbuhan dan hewan yang mengeluarkan molekul udara yang disebut pheromone alarm, yang memperingatkan anggota spesies mereka tentang adanya suatu bahaya seperti pemangsa dan sejenisnya.

Namun bagaimana cara mamalia mendeteksi adanya pheromone ini masih belum diketahui.

Kemungkinan besar, jawabannya ada pada sekelompok bola sel kecil yang disebut grueneberg ganglion.

Grueneberg ganglion pertama kali ditemukan pada 1973 pada berbagai jenis mamalia, termasuk tikus, kucing, kera dan juga manusia.

Mamalia ini kemungkinan mempunyai kemampuan untuk mencium bahaya, meskipun penelitian lebih lanjut baru dilakukan pada tikus saja.

Penemuan baru lainnya dilakukan dengan teknik isik pada tikus.

Ganglion adalah satu-satunya sub sistem penciuman yang telah sempurna pada saat kelahiran. Jadi alat ini diduga membantu bayi tikus dalam menemukan puting susu induknya. Namun ternyata ganglion ini adalah alat untuk mendeteksi bahaya.

Tim peneliti telah mencoba memisahkan ganglia ini dari beberapa tikus, lalu semua tikus itu diberikan alarm pheromone yang sama.

Hasilnya berbeda sekali antara tikus yang memiliki ganglia dan yang telah tidak mempunyainya.

Tikus normal menjadi ketakutan dengan cepat, berlarian ke sudut box, dan diam di situ. Namun tikus yang telah kehilangan ganglia tidak melakukan apapun yang menunjukkan keadaan bahaya.

Kedua kelompok ini masih bisa membaui roti yang disembunyikan di kandang mereka, jadi kemampuan membau benda tidak terpengaruh sama sekali.

Eve Manusia Kloning Pertama Di Dunia!!

Eve Manusia Kloning Pertama Di Dunia!!

Posted by Dennok Deblong 5 September, 2008


Eve bayi perempuan hasil cloning pertama didunia kini berusia 5 tahun, sehat dan kini mulai menginjak pendidikan Taman Kanak Kanak di pinggiran kota Bahama.
Era manusia super mungkin bakal segera terwujud. Dunia tidak akan kekurangan stok manusia-manusia super genius sekelas Albert Einsten atau atlet handal sekelas Carl Lewis atauaktris sensual Jennifer Lopez. Manusia-manusia super itu bakalan tetap lestari di muka bumi. 100% sama persis, yang beda hanya generasinya.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang kedokteran telah menghilangkan ketidakniscayaan itu. Melalui teknologi kloning, siapapun bisa diduplikasi.

Klaim Clonaid, perusahaan Bioteknologi di Bahama, yang sukses menghasilkan manusia kloning pertama di dunia dengan lahirnya Eve, 26 Desember 2002 lalu makin mendekatkan pada impian tersebut. Walaupun ini masih sebuah awal.

Clonaid adalah sebuah perusahaan yang didirikan sekte keagamaan Raelians tahun 1997. Mereka mempercayai kehidupan di bumi diciptakan mahluk angkasa luar melalui rekayasa genetika.

Eve merupakan bayi pertama yang lahir dari 10 implantasi yang dilakukan Clonaid tahun 2002. Dari 10 implan, lima gagal. Empat bayi kloning lainnya akan dilahirkan tahun ini, bahkan bayi kloning kedua akan lahir minggu ini.

Clonaid berencana mengimplantasi 20 klon manusia Januari ini. Pada saat bersamaan, para ahli independen akan diundang untuk melihat prosesnya sehingga bisa menyaksikan bagaimana contoh kloning, pertumbuhan embryo dan implantansinya.

Soal kekhawatiran banyak pihak tentang ketidaksempurnaan hasil kloning pada binatang yang dijadikan model pada kloning manusia, Broisselier menandaskan, kedua prosedur itu tidak bisa dibandingkan. Masalah yang timbul pada kloning binatang merupakan hasil dari prosedur khusus yang digunakan ilmuwan untuk mereproduksi binatang. Jadi bukan pada proses kloningnya.

“Kami orang-orang serius dan bertanggungjawab karena ini berhubungan dengan masalah kemanusiaan. Kami memberikan hak dan pilihan pada orang tua untuk memilih anak-anak sesuai gen mereka. Jika dalam proses kloning, peneliti Clonaid mendeteksi adanya abnormalitas, janin akan digugurkan,” katanya.

Kelahiran Eve merupakan sebuah kejutan. Sebelumnya para ilmuwan bersiap menerima kelahiran bayi kloning pertama ‘karya’ dokter ahli kesuburan Italia, Dr. Severino Antinori, awal Januari 2003.

Menurut Antinori saat ini ada dua wanita lain yang juga sedang mengandung bayi hasil kloning, dengan usia kandungan 27 dan 28 minggu. Namun ia menolak bertanggungjawab atas proses pengklonan terhadap kedua wanita tersebut, walaupun ia bertindak sebagai penasehat.

Antinori adalah ahli kesuburan yang piawai. Ia telah mendeklarasikan keberhasilannya mengklon babi dan primata dan berhasil menerobos prosedur fertilitas konvensional dengan membuat seorang wanita hamil pada usia 62 tahun pada 1994.

Kebanyakan ilmuwan setuju, reproduksi manusia dengan cara kloning memang memungkinkan. Namun mereka menekankan, eksperimen seperti itu tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tingginya resiko kematian dan gangguan pasca kelahiran.

“Upaya mengkloning manusia adalah tindakan tidak bertanggungjawab dan menjijikkan serta mengabaikan banyaknya bukti ilmiah dari 7 spesies mamalia yang sejauh ini sudah dikloning,” kata Rudolf Jaenisch, ahli kloning dari Massachusetts Institute of Technology.

Ilmuwan Roslin’s Institute, Ian Wilmut yang berperan dalam kelahiran Dolly menegaskan, kloning pada manusia amat mengejutkan karena jumlah kegagalan yang tinggi dan kematian pada bayi yang baru lahir.

Kloning pada binatang menunjukkan adanya kelemahan. Dolly, mamalia pertama yang berhasil dikloning terbukti menderita arthritis pada usianya yang masih muda.

Domba betina ini dikloning dengan teknik kloning transfer inti sel somatik (sel tubuh). DNA Dolly berasal dari sel tunggal yang diambil dari sel telur induknya yang kemudian difusikan dengan sel ‘mammary’ (sel kelenjar susu). Sel yang telah bergabung berkembang menjadi embryo yang kemudian ditanamkan pada biri-biri pengganti.

Walau dikatakan berhasil, prosedur kloning ini tidaklah sempurna. Diperlukan 227 percobaan sebelum akhirnya tercipta Dolly. Kloning pada manusia lebih rumit dengan resiko yang besar dan sangat potensial terjadi kesalahan. Para ilmuwan khawatir, penggunaan teknik ini pada manusia akan ‘memunculkan’ malformasi.

National Bioethics Advisory Commission mengemukakan, penggunaan binatang guna memahami proses-proses biologi seperti dalam kasus Dolly, memberikan harapan besar bagi kemajuan dunia medis di masa depan. Namun tidak ada pembenaran untuk riset dengan tujuan menghasilkan anak manusia melalui teknik ini.

Para ilmuwan juga amat risau dengan risiko medik dan ketidakpastian yang berhubungan dengan kloning manusia. Salah satu kekhawatirannya adalah jika seorang bayi di klon, maka kromosomnya akan cocok dengan usia donor. Misalnya seorang anak hasil kloning yang berusia 5 tahun akan tampak seperti berumur 10 karena mendapat kromosom dari donor berusia 5 tahun , dengan disertai risiko penyakit jantung dan kanker.

Resiko buruk juga mengintai para wanita yang memutuskan mengandung bayi kloning. Menurut ahli perkembangan embryo pada mamalia, Prof. Richard Gardner, para wanita tersebut beresiko terkena satu jenis kanker yang tidak biasa dan unik pada manusia, yang menyerang rahim, yaitu choriocarcinoma.

Mengacu pada berbagai resiko ini banyak negara melarang dilakukannya riset-riset kloning pada manusia. Presiden AS kala itu Bill Clinton mengeluarkan rekomendasi moratorium atau penghentian riset kloning manusia selama 5 tahun. Hampir semua agama juga melarang teknologi kloning pada manusia.

Namun selain memiliki sisi gelap, penelitian kloning pada manusia sebenarnya memberikan harapan bagi masa depan dunia kedokteran. Teknik kloning memungkinkan dokter mengidentifikasi penyebab keguguran spontan, memberikan pemahaman pertumbuhan cepat sel kanker, penggunaan sel stem untuk meregenerasi jaringan syaraf, kemajuan dalam penelitian masalah penuaan, genetika dan pengobatan.

Bertolak dari manfaat dan mudlaratnya teknologi kloning ini, agamawan, ahli politik, ahli hukum dan pakar kemasyarakatan perlu segera merumuskan mengenai aturan pemakaian teknologi kloning. Sebab ditangan ilmuwan ‘hitam’, kloning bisa menjadi malapetaka.

Seorang anggota kelompok Raelian, Brigitte Boisselier mengatakan, bukti ilmiah akan diajukan segera, jika saya tidak mengajukan bukti ilmiah, pasti Anda mengatakan saya telah mengarang cerita. Jadi satu-satunya cara adalah kami akang mengundang seorang pakar independen ke tempat orang tua bayi itu. Di sana ia bisa mengambil contoh sel dari bayi dan ibunya, untuk kemudian membandingkannya. Jadi, Anda akan mendapatkan bukti.

Raelian sejauh ini dikenal sebagai sekte agama yang percaya bahwa kehidupan di luar angkasa telah menciptakan kehidupan di bumi. Kelompok yang mendapat pengakuan resmi pemerintah negara bagian Quebec, Kanada, sebagai gerakan agama di tahun 1990-an ini mengklaim memiliki 55 ribu anggota di berbagai penjuru dunia, termsuk Amerika. Kelompok ini memilki sebuah taman yang terbuka untuk umum bernama UFOland, dekat Montreal.

KLONING terhadap manusia (Eve) merupakan sebuah keberhasilan para ilmuwan Barat dalam memanfaatkan sains yang akhirnya mampu membuat sebuah kemajuan pesat — yang telah melampaui seluruh ramalan manusia. Betapa tidak, cara ini dianggap sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas keturunan: lebih cerdas, kuat, rupawan, ataupun untuk memperbanyak keturunan tanpa membutuhkan proses perkembangbiakan konvensional.

Revolusi Kloning Manusia ini semakin memantapkan dominasi sains Barat terhadap kehidupan manusia, termasuk kaum Muslim.

Apalagi, efek berikutnya dari perkembangan revolusi ini yaitu penggunaan dan pemanfaatannya akan selalu didasarkan pada ideologi tertentu. Bagi kaum Muslim sendiri, meskipun eksperimen ilmiah dan sains itu bersifat universal, dalam aspek penggunaannya harus terlebih dulu disesuaikan dengan pandangan hidup kaum Muslim.

Persoalan yang pertama adalah terkait dengan kontroversi adanya “intervensi penciptaan” yang dilakukan manusia terhadap “tugas penciptaan” yang semestinya dilakukan oleh Allah SWT. Dan persoalan yang kedua adalah bagaimana posisi syariat menghadapi kontroversi pengkloningan ini. Apakah syariat mengharamkan atau justru sebaliknya menghalalkan?

Proses Kimiawi Jatuh Cinta


Jika kita bertanya pada orang-orang dewasa ataupun yang telah uzur, sebuah pertanyaan yang menggelikan tetapi sangat menarik, “Kalau Anda ingin kembali ke masa muda, masa manakah yang akan Anda pilih?”, kira-kira bagaimana jawaban mereka?

Pastilah kebanyakan dari mereka akan langsung menjawab ingin kembali ke masa SMU dengan alasan yang beraneka ragam. Tetapi salah satu jawaban yang pasti adalah ketertarikan mereka pada lawan jenis dengan berjuta-juta jalan cerita yang tak kunjung usai untuk diceritakan. Mereka mengakui bahwa ketika bertatapan dengan kecengan atau pada saat berada di dekat dia atau waktu ngobrol sama dia, akan timbul perasaan yang tidak dimengerti (tidak biasanya terjadi), seperti perasaan canggung/kikuk, malu, salah tingkah, atau perasaan dag-dig-dug nggak karuan.

Harus diakui kebanyakan dari mereka tidak berusaha sungguh-sungguh mencari jawabannya dan menganggap hal tersebut sesuatu yang biasa saja sebagaimana terpersonalisasinya pikiran bahwa jika berbicara masalah ilmiah maka akan terbersit bayangan bahwa ilmiah, sudah dari sononya memang sulit untuk dipahami.

Terlepas dari hal tersebut merupakan kodrat manusia, artikel ini akan menjelaskan secara definitif dan sederhana tentang aliran kimiawi cinta. Sebelum turun ke hati, aliran cinta akan transit dulu di otak untuk melewati proses-proses kimiawi. Dan proses transit ini memerlukan beberapa tahapan sehingga aliran kimiawi cinta tidak sesederhana dan secepat peribahasa ‘dari mata turun ke hati’.

Tahap 1: Terkesan

Pada tahap ini, terjadi kontak antara dua orang melalui alat indera (mata) baik melalui tatapan, berdekatan, berbicara atau yang lainnya.

Tahap 2: Ketertarikan

Pada tahap ini otak akan terangsang untuk menghasilkan tiga senyawa cinta, yaitu: Phenyletilamine (PEA), Dopamine dan Nenopinephrine.

1. Phenyletilamine (PEA) atau 2-feniletilamina
Senyawa ini mempunyai Mr =121,18; titik didih sebesar 197-200oC ; berat jenis = 0,965 ; titik Fahrenheit = 195oF (90oC) dan memiliki bidang polarisasi ND 200 = 1,5335
2. Dopamine
Struktur Dopamine ada dua, yaitu:
1. Dopamine (3-hidroksitiraminihidrogenbromida atau 3,4-dihidroksiphenentilamin)
Mempunyai Mr = 234,10 dan titik lebur 218-220ooC
2. Dopamine (3-hidroksitiraminhidrogenklorida atau 3,4-dihidroksiphenetilamin)
Mempunyai Mr = 189,64 dan titik lebur 241 – 243oC

Dari ketiga senyawa tersebut, senyawa PEA-lah yang paling berperan dalam proses kimiawi cinta. Senyawa ini juga yang mengakibatkan kamu merasa tersipu-sipu, malu ketika berpandangan dengan orang kamu sukai. Dan ternyata senyawa PEA ini banyak terkandung dalam coklat seperti Silver Queen, Waver Tango, Conello, Es Krim, Choki-Choki, dan lain-lain. Mungkin inilah sebabnya orang-orang dulu bahkan juga sekarang suka memberi coklat pada seseorang yang dicintainya.

Tahap 3: Pengikatan

Pada tahap ini tubuh akan memproduksi senyawa Endropin. Senyawa inilah yang akan menimbulkan perasaan aman, damai, dan tentram. Otak akan memproduksi senyawa ini apabila orang yang kita kasihi berada di dekat kita.

Tahap 4: Persekutuan Kimia (Tahap Terakhir)

Pada tahap ini senyawa Oxyrocin yang dihasilkan oleh otak kecil mempunyai peranan dalam hal membuat rasa cinta itu menjadi lebih rukun dan mesra antara keduanya.

Jika orang sudah jatuh cinta kepada lain jenis, maka ada tanda-tanda yang dapat kita lihat antara lain:

1. Malu-malu jika orang yang dicintai memandanginya.
2. Tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri.
3. Memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya.
4. Segera menghampiri yang dicintai.
5. Mencintai apapun yang dicintai sang kekasih.
6. Jalan yang dilalui terasa pendek sekalipun panjang saat mengunjungi orang yang dicintai.
7. Kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.
8. Cemburu kepada orang yang dicintai.
9. Rela berkorban untuk orang yang dicintai.
10. Menyenangi apapun yang menyenangkan orang yang dicintai.
11. Tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai.
12. Menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dengan orang yang dicintai dan membuatnya marah.
13. Adanya kecocokan antara orang yang mencintai dan yang dicintai.

Demikian tahapan-tahapan aliran kimiawi cinta, tetapi janganlah kita terpersepsikan bahwa jika kata 祖inta・akan selalu berhubungan dengan pacaran. Sebab jika kita berbicara masalah cinta, sebenarnya bukan hanya untuk lawan jenis, tetapi perasaan cinta seseorang kepada suami/istrinya, anak, teman, adik, serta saudara yang lain.

Dan terlepas dari pembagian porsinya yang berbeda-beda, haruslah diingat bahwa segala sesuatu tersebut adalah karunia dari Sang Pencipta yakni Allah SWT sehingga wajar porsi paling besar haruslah kita berikan kepada Allah SWT. Dan semoga kita adalah orang-orang yang bukan termasuk orang-orang yang menyalahkan arti/makna cinta tersebut. (dari pelbagai sumber)

Rabu, 05 November 2008

Penyimpanan Darah Tali Pusat: Prospek Kebutuhan Transplantasi vs Trend Mimpi Bioteknologi (II)

Penyimpanan Darah Tali Pusat: Prospek Kebutuhan Transplantasi vs Trend Mimpi Bioteknologi (II)

Transplantasi DTP Alogenik dari anggota keluarga/kerabat

Transplantasi DTP allogenik dari donor kerabat dekat/keluarga dengan HLA yang sesuai efektif untuk terapi pasien kelainan darah [12]. Donor DTP Alogenik biasanya memiliki kriteria kualiti kontrol yang cukup ketat. Namun, pada DTP alogenik dari anggota keluarga/kerabat, kriteria ini lebih ringan. Contohnya, ditemukannya maternal hepatitis pada pendonor dapat mendiskualifikasi donasi DTP dari pendonor yang tidak ada hubungan keluarga/kerabat dekat. Tetapi tidak terjadi pada DTP alogenik dari anggota keluarga, jika diketahui bahwa ibu dari pendonor memberikan hasil negatif pada test infeksi hepatitis aktif [13]. Di Amerika, NIH telah mendirikan tempat penyimpanan DTP milik pemerintah untuk keluarga. Terutama, yang anak-anaknya menderita hemoglobinophati. Tempat penyimpanan ini, The Children's Hospital Oakland Sibling Donor Cord Blood Program, adalah unit penyimpanan DTP publik terbesar untuk kegunaan medis keluarga-keluarga yang membutuhkan. Mereka mengumpulkan DTP dari mana saja seluruh USA untuk kepentingan indikasi medis yang sesuai. Mereka menyimpan lebih dari 3000 unit DTP guna kepentingan mereka yang membutuhkan transplantasi (49% untuk kondisi malignant, 28% penyakit sickle cell, 6% thalassemia, 17% nonmalignant lain). Pada tahun 2006, bank DTP ini telah memfasilitasi pemberian DTP untuk 65 transplantasi alogenik dan singenik, 23 pasien dengan indikasi MDS/leukemia akut, 21 pasien dengan indikasi thalassemia, 12 pasien dengan indikasi penyakit sickle cell, dan 9 pasien dengan indikasi nonmalignant lainnya [14], [15].



Proses pemotongan tali pusat segera setelah bayi dilahirkan


Tranplantasi DTP Autologous

Tersedia beberapa data yang terkait dengan hasil dari transplantasi menggunakan DTP milik pribadi ini. Kasus pertama, dipublikasikan tahun 1999, menjelaskan anak berusia 14 bulan menderita neuroblastoma, yang telah menyimpan DTP saat lahir karena saudara kandung laki-lakinya menderita akut myelogeneous leukemia (AML) [16]. Setelah menjalani transplantasi DTP autologous, ia mampu bertahan hidup dan bebas dari penyakit selama 14 bulan setelah transplantasi. Fruchtman dkk [17] mempublikasikan juga transplantasi DTP autologous yang sukses untuk kasus Anemia Aplastic berat yang disertai kegagalan hati dan transplantasi hati pada dua pasien dengan Anemia Aplastic idiopathic berat, di usia 5 dan 9, seperti diberitakan 2007 BMT Tandem Meetings [18]. Kedua pasien tersebut mampu hidup dengan jumlah darah yang normal 8 dan 3 bulan setelah transplantasi. Hayani dkk [19] belum lama juga mempublikasikan kasus pertama transplantasi DTP digunakan untuk pengobatan leukemia akut. Anak berusia 3 tahun dengan acute lymphoblastic leukemia (ALL) dan isolasi system saraf pusat (isolated CNS relapse) menjalani transplantasi autologous DTP menggunakan cryopreserved sel DTP yang disimpan saat kelahirannya. Pasien ini mampu bertahan hidup dan bebas dari penyakit 24 bulan setelah transplantasi. Sementara itu, penggunaan autologous DTP untuk penyakit autoimmune masih dalam tahap investigasi awal. Haller dkk [20] mengobati 7 anak yang menderita type I diabetes dengan infusi DTP autologous; anak-anak ini memiliki kebutuhan insulin yang rendah dan hemoglobin A1c daripada anak-anak lain yang juga mengalami diabetes berat tanpa infuse DTP autologous. The Cord Blood Registry memberitakan bahwa 11 unit DTP personal telah digunakan untuk transplantasi dengan indikasi penyakit anemia aplastic, cerebral palsy, traumatic brain injury, dan immune deficiency, namun tidak ada kesuksesan data yang dipublikasikan mengenai transplantasi-transplantasi menggunakan donor personal DTP yang dilakukan tersebut [13].

Karena segelintir data tersebut diatas, ada kecenderungan para orang tua sehat, dengan tidak ada riwayat penyakit pada saudara maupun kerabat dekat, berkeinginan ingin menyimpan DTP anak-anak mereka. Tujuan utamanya ialah jikalau anak mereka sewaktu-waktu membutuhkan transplantasi DTP autologous, mereka tidak perlu mencari donor dan beresiko terhadap ketidakcocokan HLA. Padahal tidaklah demikian. Transplantasi DTP autologous efektif untuk kasus-kasus tertentu seperti: limfoma, myeloma, neuroblastoma, dan pada kasus-kasus kelainan sumsum tulang atau jika transplantasi HSC memang benar-benar dibutuhkan dan umumnya terjadi pada mereka dengan riwayat keluarga yang juga menderita penyakit-penyakit tersebut. Ditambah lagi, penyimpanan DTP milik pribadi bukan merupakan pilihan yang optimal untuk kasus leukemia dan penyakit kelainan genetik. Pasien dengan kegagalan sumsum tulang genetik dan sindrom immunodefisiensi, penyakit kelainan metabolic dan hemoglobinopathies yang membutuhkan transplantasi alogenik dari donor, penyimpanan autologous DTP tidak ada gunanya [27].

Trend Bioteknologi

Adalah fenomena yang umum dimana semua yang dilakukan oleh para selebritis, dikampanyekan para public figur dan bintang film menjadi sebuah hal yang terkesan “keren” dan “gaya”. Masyarakat yang mampu ataupun tidak mampu dengan upayanya yang setengah memaksa dalam keterbatasan ilmu dan pemahaman akan terbawa arus trend-trend tersebut.

Menjamurnya trend bioteknologi stem cell dan transplantasi telah mengadopsi informasi-informasi yang sifatnya superficial. Seakan-akan segala macam penyakit dapat disembuhkan dengan teknologi canggih bernama stem cell yang menelan biaya tidak kurang dari 700 juta rupiah sekali transplantasi. Penyimpanan DTP pribadi sebagai “Asuransi Kesehatan Biologis“ adalah salah satu isu yang semakin banyak dilirik oleh banyak artis dan bintang film saat ini. Bintang-bintang top papan atas di Amerika, Eropa, telah melakukannya dan belum lama aktris wanita China telah menyatakan ketertarikan untuk menyimpan DTP anaknya di sebuah perusahaan penyimpanan swasta. Indonesia, sebagai negara yang terbiasa dengan pola “me-too trend”, di tahun 2006, sekitar 100 orang penduduknya telah menaruh DTP anak mereka di Singapore [21]. Beberapa diantaranya adalah public figur dan pengusaha.

Memang disinyalir bahwa kegunaan potensial DTP di luar dari bidang onkologi dimungkinkan guna penggunaan transplantasi sel induk nonhematopoietic dari mesenchymal stem cells DTP, untuk berdiferensiasi menjadi jaringan alternatif seperti endothel, tulang, cartilage, saraf, sel jantung, atau kemampuan mereka mengekspresikan gen yang ditransfeksi. Riset preklinis menggunakan hewan mensinyalir bahwa DTP mononuclear cells mungkin dapat digunakan pada terapi penyakit neurologi (stroke, spinal cord, brain trauma, amyotropic lateral sclerosis), penyakit jantung (infark myocard, ischemia, cardiac injury, dan valve repair), serta perbaikan perbaikan jaringan [22], [23], [24], [25]. Namun riset-riset tersebut pun baru saja dimulai. Apakah DTP dapat benar-benar berguna menyembuhkan berbagai macam penyakit ini masih dalam wilayah yang sangat abu-abu. Kegunaan penyimpanan DTP secara personal pada perusahaan swasta untuk pengobatan nonhematopoietic dan penyakit-penyakit lain pun tidak diketahui dengan jelas [13]. Di bulan Maret 2004, the European Group on Ethics in Science and New Technologies memberikan pernyataan mereka: “Legitimasi penyimpanan DTP secara komersil untuk penggunaan transplantasi DTP autologous harus dipertanyakan karena mereka menjual jasa yang penggunaan terapeutiknya tidak real. Mereka menjanjikan lebih dari apa yang dapat mereka lakukan. Aktivitas perusahaan-perusahaan swasta ini dapat secara serius
mendapatkan kritik.”[26]

Berapa Biayanya?

Biaya penyimpanan DTP pribadi relatif ekonomis bagi segelintir golongan. Di Amerika, tahun 2007 biaya penyimpanan DTP milik pribadi sekitar US$2.000 untuk ekstraksi dan sekitar US$125 per tahun. Di singapura biaya penyimpanannya sekitar S$ 5.000 to S$ 10.000 per tahun. Di Indonesia, ekstraksi DTP membutuhkan biaya sekitar 10 juta rupiah dan dilakukan segera setelah proses persalinan. Sedangkan penyimpanannya sekitar 1.5 juta rupiah per tahun. Jika ingin menyimpan di Singapura, biaya penyimpanannya meliputi kit pengambilan darah tali pusat, biaya pengambilan, pemrosesan dan test laboratorium serta pengiriman dari Jakarta ke singapura sekitar S$2.000, dan pembayaran tahunannya sekitar S$250. Bukan biaya yang mahal bagi kalangan masyarakat menengah ke atas.

Penyimpanan DTP milik pribadi dibutuhkan oleh para orang tua yang akan melahirkan anak dimana terdapat riwayat saudara kandung anak tersebut atau ayah dan ibunya menderita penyakit yang mungkin dapat diterapi dengan teknik transplantasi DTP. Namun bagi para orang tua dengan bayi dan anggota keluarga yang sehat, perlu di garisbawahi bahwasanya unit DTP dirilis guna kepentingan transplantasi masyarakat/public yang membutuhkan sekurang-kurangnya 100 kali lebih besar daripada kepentingan penyimpanan unit DTP pada perusahaan swasta.

Sementara yang terjadi saat ini ialah jumlah unit DTP milik pribadi disimpan di penyimpanan swasta 3 kali lebih besar daripada jumlah unit DTP yang tersedia di tempat penyimpanan milik pemerintah. DTP sangat bermanfaat untuk sumber di komunitas banyak, bukan untuk pribadi. Selayaknya para orang tua memiliki pemahaman ini sebelum membuat keputusan dan selayaknya berkonsultasi dengan tenaga medis dan klinik yang berpengalaman [13].

Kenali Informasi Sebelum Memutuskan

Bisnis penyimpanan DTP pribadi telah sangat menjamur, terutama di USA, Australia, Eropa, Singapore, bahkan telah mulai merambah Indonesia dengan keterbatasan arus informasi yang simpang siur. Telah berdiri sejumlah perusahaan swasta penyimpanan DTP di seluruh dunia yang memberikan asuransi dan jaminan penyimpanan DTP milik pribadi. Alasan dari menjamurnya jenis-jenis perusahaan penyimpanan swasta ini ialah: (1) Ketertarikan orang tua dalam memberikan anak-anak mereka “Asuransi Kesehatan Biologis” dalam kasus penyakit yang berkembang di masa yang akan datang yang dimungkinkan dapat diobati dengan transplantasi DTP autologous, dan (2) Teknik marketing yang agresif oleh perusahaan swasta yang menawarkan jasa penyimpanan DTP.

Dalam jurnalnya yang terbit Mei 2008 [13] baru-baru ini, American Society of Blood & Marrow Transplantation (ASBMT) memberikan beberapa informasi yang penting diketahui oleh para orang tua sebelum memutuskan akan menggunakan "Asuransi Kesehatan" jenis ini.

1. Probabilitas kebutuhan klinis. Estimasi atas manfaat penyimpanan CB untuk diri sendiri pada bayi yang baru lahir dari keluarga yang tidak ada riwayat penyakit aneh menggunakan probabilitas perkembangan kanker, kebutuhan akan manusia terhadap transplantasi, dan kurangnya ketersediaan donor transplantasi alogenik yang sesuai dengan system imun, didapatkan hasil perkiraan penggunaan penyimpanan unit DTP secara personal adalah 1:2500 (0.04%) sampai 1:200,000 (0.0005%) [27], [28], [29], [30], [31]. Transplantasi DTP autolog dapat sangat bermanfaat untuk pasien dengan penyakit limfoma, myeloma, neuroblastoma, dan pada kasus-kasus kelainan sumsum tulang atau jika transplantasi HSC memang benar-benar dibutuhkan. Namun, pasien dengan kegagalan sumsum tulang genetik dan sindrom immunodefisiensi, penyakit kelainan metabolic dan hemoglobinopathies yang membutuhkan transplantasi
alogenik dari donor, penyimpanan autologous DTP tidak ada gunanya [27].

2. Penyakit laten. Klaim kemampuan pendeteksian penyakit yang dapat terjadi pada bayi di masa mendatang menjadi salah satu iming-iming penyimpanan DTP milik pribadi. Salah satunya ialah pendeteksian penyakit abnormalitas sel seperti leukemia. Klaim ini tidak dapat digeneralisasi karena sel tersebut bisa terdeteksi, bisa juga tidak. Pendeteksian penyakit laten ini pada dasarnya dilakukan oleh pihak penerima donor DTP untuk memeriksa kelayakan DTP tersebut ketika digunakan oleh orang lain. Seperti diberitakan dalam jurnal (Rowley et al) [32]. Investigator telah menemukan bahwa sel darah leukemia ditemukan dalam darah neonatal anak-anak yang kemudian hari didiagnosa menderita leukemia. Tiga anak berusia 2, 5, dan 6 tahun dengan lymphoblastic leukemia akut dan translokasi kromosom t(4;11), memiliki Guthrie cards (filter yang mengandung darah bayi baru lahir) mereka masing-masing dan ditemukan memiliki t(4;11) sel abnormal semenjak lahir. Untuk alasan ini, pihak penyimpan DTP milik publik akhirnya membuang DTP unit mereka karena tidak layak lagi dipergunakan.

3. Efek Graft-versus-leukemia (GvL). Dari data publikasi yang ada, melihat tingginya angka relaps (high relapse rates) pasca transplantasi autologous dan transplantasi singenik serta mempertimbangkan manfaat efek GvL dari transplantasi alogenik, mengindikasikan bahwa DTP milik pribadi bukanlah merupakan sumber sel yang optimal untuk pasien leukemia (kanker darah) yang membutuhkan transplantasi.

4. Kualitas dan Kelayakan. Kelayakan penyimpanan DTP jangka panjang sangat perlu diperhatikan. Untuk penyimpanan DTP milik pribadi yang disimpan semenjak lahir bisa jadi tidak dipergunakan dalam jangka waktu panjang. Penyimpanan DTP telah ditemukan layak disimpan selama 15 tahun setelah cryopreservation, tetapi tidak ada data yang dapat menjamin baiknya sistem penyimpanan diluar jangka waktu tersebut. [32], [33].

Apa Kata Dunia?

Dengan marak dan menjamurnya "trend bioteknologi" penyimpanan DTP secara personal di seluruh dunia, ASBMT, The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), dan the American Academy of Pediatrics (AAP) merasa perlu menegaskan pernyataannya masing-masing di jurnal yang beredar awal tahun ini [13], [34], [35]. Berdasarkan data-data akurat riset stem cell & transplantasi di dunia, telaah marketing pasar, dan berbagai konflik interest, pro dan kontra berbagai pihak, ketiga asosiasi kesehatan Amerika ini sepakat untuk tidak merekomendasikan orang tua untuk menyimpan DTP sebagai “Asuransi Kesehatan Biologis” karena probabilitas digunakannya DTP untuk kepentingan personal sangat-sangat rendah yaitu 0.04% (1:2500) sampai 0.0005% (1:200,000) [27], [28], [29], [30], [31] sehingga penyimpanan DTP untuk kegunaan pribadi, tidak direkomendasikan.

Lebih lanjut ketiga asosiasi tersebut menyatakan bahwa penyimpanan DTP milik pribadi atau keluarga hanya direkomendasikan untuk dua alasan: (1) Jika bayi yang akan disimpan DTPnya memiliki saudara kandung dengan riwayat penyakit yang mungkin dapat sukses diobati dengan transplantasi HSC, dan (2) Jika bayi yang akan disimpan DTPnya memiliki orang tua (ayah, ibu, atau keduanya) yang dapat secara sukses diobati dengan transplantasi HSC, dimana terdapat kesesuaian antigen-HLA pada kedua orang tuanya (jika hanya ayah atau ibunya saja yang terkena). Organisasi-
organisasi dunia ini juga merekomendasikan para orang tua untuk secara langsung mendonorkan, bukan menyimpan DTP anak mereka, pada keluarga/kerabat terdekat dengan riwayat penyakit atau kelainan yang mungkin dapat disembuhkan dengan transplantasi DTP. Pendonasian DTP ini tidak dikenakan biaya sedikit pun [13].

ASBMT telah melakukan survey terhadap perusahaan penyimpan DTP swasta di USA. Susan Stewart dari komite mereka melakukan kontrak terhadap 17 perusahaan penyimpan DTP swasta dan menggali informasi-informasi dari perusahaan-perusahaan swasta yang tersebar di USA. Hasilnya, mereka secara serius prihatin terhadap taktik marketing perusahaan-perusahaan swasta penyimpanan personal DTP yang melakukan pendekatan terhadap para orang tua yang dengan keterbatasan informasinya dan pemahamannya terhadap DTP lalu dengan mudahnya mengambil keputusan. Taktik ini banyak menggunakan klaim-klaim tentang kehidupan anak yang baru lahir kelak, kecanggihan alat penyimpanan DTP mereka, dan kewajiban serta bukti kasih sayang orang tua terhadap kesehatan anak-anaknya di masa yang akan datang.

The European Union's menyatakan, "Kemungkinan seseorang menggunakan DTP stem cell dirinya sendiri untuk pengobatan regenerative saat ini seutuhnya adalah hipotesa belaka. Riset tersebut saat ini pada fase yang sangat teramat muda belia. Legitimasi perusahaan komersial penyimpanan DTP secara personal harus dipertanyakan karena mereka menjual servis yang mempresentasikan penggunaan pilihan terapi yang tidak real" [36]. Di Italia penjualan koleksi dan penyimpanan personal DTP adalah illegal sejak tahun 2002. The Royal College of Obstetricians and Gynaecologists membuat pernyataan "Penyimpanan DTP secara komersial tidak dapat direkomendasikan saat ini, karena tidak adanya riset dasar yang mencukupi..." [37]. Sementara itu di Perancis, The French National Consultative Ethics Committee’s menyatakan ".....rekomendasi untuk para orang tua, mereka seharusnya melakukan pendonoran DTP untuk tujuan transplantasi allogenik bagi mereka yang membutuhkan, daripada mendaftar untuk menyimpan di perusahaan swasta guna kepentingan pribadi dimana kegunaan potensi therapeuticnya tidak valid/autentik."[38].

Australia berbicara dalam medical jurnal Australia, May 2008 [39], "Berbeda dengan tujuan pengumpulan donor DTP oleh penyimpanan publik guna kepentingan yang membutuhkan, justifikasi jaminan asuransi kesehatan yang diklaim oleh perusahaan swasta adalah sangat kecil atau tidak ada, tidak memberikan manfaat bagi komunitas, juga manfaat yang sangat kecil bagi para orang tua (hanya reassurance dan ketidakhawatiran menyesal kalau-kalau si anak membutuhkan transplantasi yang probabilitasnya juga sangat kecil)".

Di Jepang, pihak kementrian kesehatan dan kesejahteraannya memiliki kebijaksanaannya sendiri dimana mereka menyediakan sejumlah dana guna penstabilan jaringan penyimpanan DTP milik pemerintah untuk kepentingan transplantasi bagi masyarakat yang membutuhkan. The Japan Cord Blood Bank Network itu sendiri telah memulai aktivitasnya sejak tahun 1999. Semua unit secara financial disupport oleh pemerintah. 20.000 unit DTP pada 5 tahun mendatang direncanakan terkumpul guna kepentingan public [40].

Lalu apakah masyarakat Indonesia golongan kelas menengah ke atas dalam kegamangan krisis BBM dalam negeri serta maraknya demo juga akan mengikuti trend penyimpanan DTP personal ini? Terlepas dari apa maksud pemerintah meresmikan perusahaan swasta guna penyimpanan DTP secara personal di Indonesia saat krisis melanda negeri ini, sepertinya kebijakan pemerintah dalam mencerdaskan para orang tua kalangan publik figur, artis, pemilik modal, dan masyarakat umum, justru yang wajib di tekankan. Kearifan pemerintah dalam menentukan prioritas alokasi dana riset untuk penyakit-penyakit yang sifatnya lebih luas serta nyata dampaknya bagi rakyat, perlu lebih ditingkatkan. Sehingga terbuka kemungkinanbahwa ratusan juta aliran dana untuk penyimpanan DTP para konglomerat tidak mengalir ke satu kantung perusahaan swasta, namun mengalir ke kantung-kantung rakyat, para pengusaha, pedagang kecil,
rumah sakit dan puskesmas kecil di wilayah terpencil kepulauan Indonesia tercinta.

Daftar Pustaka

1. Gluckman E, Broxmeyer HE, Auerbach AD et al. Hematopoietic reconstitution in a patient with Fanconi’s anemia by means of umbilical cord blood from an HLA-identical sibling. New Engl J Med 1989; 321: 1174–1178.
2. Brunstein CG, Setubal DC, Wagner JE. Expanding the role of umbilical cord blood transplantation. Br J Haematol. 2007;137:20–35.
3. Gluckman E, Rocha V. Donor selection for unrelated cord blood transplants. Curr Opin Immunol. 2006;18:565–570.
4. Vogelsang, G. B., Lee, L. & Bensen-Kennedy, D. M. Pathogenesis and treatment of graft-versus-host disease after bone marrow transplant. Annu. Rev. Med. 54, 29-52 (2003).
5. Barker JN, Weisdorf DJ, DeFor TE, et al.. Transplantation of two partially HLA-matched umbilical cord blood units to enhance engraftment in adults with hematologic malignancy. Blood. 2005;105:1343–1347.
6. Ballen KK, Spitzer TR, Yeap BY, et al.. Double unrelated reduced-intensity umbilical cord blood transplantation in adults. Biol Blood Marrow Transplant. 2007;13:82–89.
7. Eapen M. Outcomes of transplantation of unrelated donor umbilical cord blood and bone marrow in children with acute leukemia: a comparison study. Lancet. 2007;369:1947–1954.
8. P. Rubinstein, C. Carrier, A. Scaradavou, J. Kurtzberg, J. Adamson, A.R. Migliaccio, R.L. Berkowitz, M. Cabbad, N.L. Dobrila, P.E. Taylor, R.E. Rosenfield and C.E. Stevens, Outcomes among 562 recipients of placental-blood transplants from unrelated donors, N. Engl. J. Med. 339 (1998), pp. 1565–1577.
9. Gluckman E, V. Rocha, A. Boyer-Chammard, F. Locatelli, W. Arcese, R. Pasquini, J. Ortega, G. Souillet, E. Ferreira, J.P. Laporte, M. Fernandez and C. Chastang, Outcome of cord-blood transplantation from related and unrelated donors. Eurocord Transplant Group and the European Blood and Marrow Transplantation Group, N. Engl. J. Med. 337 (1997), pp. 373–381.
10. Barker JN, Weisdorf DJ, DeFor TE, Blazar BR, Miller JS, Wagner JE. Rapid and complete donor chimerism in adult recipients of unrelated donor umbilical cord blood transplantation after reduced-intensity conditioning. Blood. 2003;102: 1915-1919.
11. Beam D, Poe MD, Provenzale JM, et al. Outcomes of unrelated cord blood transplantation for X-linked adrenoleukodystrophy. Biol Blood Marrow Transplant. 2007;13:665-674.
12. Locatelli F, Rocha V, Reed W, et al. Related umbilical cord blood transplantation in patients with thalassemia and sickle cell disease. Blood. 2003;101:2137-2143.
13. K . Ballen , J . Barker , S . Stewart , M . Greene , T . Lane. Collection and Preservation of Cord Blood for Personal Use. Biology of Blood and Marrow Transplantation , Volume 14 , Issue 3 , Pages 356 - 363
14. Walters MC, Quirolo L, Edwards S, et al. Directed donor CB transplantation for hematologic disorders. Biol Blood Marrow Transplant. 2007;13(Suppl 2):79a.
15. Walters MC, Quirolo L, Trachtenberg ET, et al. Sibling donor CB transplantation for thalassemia major: experience of the Sibling Donor Cord Blood Program. Ann N Y Acad Sci. 2005;1054: 206-213.
16. Ferreria E, Pasternak J, Bacal N, et al.. Autologous cord blood transplantation. Bone Marrow Transplant. 1999;24:1041.
17. Fruchtman SM, Hurlet A, Dracker R, et al. The successful treatment of severe aplastic anemia with autologous cord blood transplantation. Biol Blood Marrow Transplant. 2004;10: 741-742.
18. Rosenthal J, Bolotin E, Pawlowska A, et al. Hematopoietic stem cell transplantation with autologous cord blood units in two patients with severe aplastic anemia: time for reassessment? Biol Blood Marrow Transplant. 2007;13(Suppl 2):100a.
19. Hayani A, Lampeter E, Viswanatha D, et al. First report of autologous cord blood transplantation in the treatment of a child with leukemia. Pediatrics. 2007;119:296-300.
20. Viener HL, Brusko T, Wasserfall C, et al. Changes in regulatory T cells following autologous umbilical cord blood transfusion in children with type I diabetes. J Am Diabetes Assoc. 2007;0314 (abstract).
21.http://kalbefarma.blogspot.com/2006/12/cord-blood-storage-now-available-in.html
22. Newcomb JD, Sanberg PR, Klasko SK, Willing AF. Umbilical cord blood research: current and future perspectives. Cell Transplant. 2007;16:151-158.
23. Goodwin HS, Bicknese AR, Chien SN, Bogucki BD, Quinn CO, Wall DA. Multilineage differentiation activity by cells isolated from umbilical cord blood: expression of bone, fat, and neural markers. Biol Blood Marrow Transplant. 2001;7:581-588.
24. Korbling M, Robinson S, Estrov Z, Champlin R, Shpall E. Umbilical cord blood-derived cells for tissue repair. Cytotherapy. 2005;7:258-261.
25. Goldberg JL, Laughlin MJ. Umbilical cord blood hematopoeitic stemcells and therapeutic angiogenesis. Cytotherapy. 2007;9:4-13.
26. European Group on Ethics in Science and New Technologies. Ethical aspects of umbilical cord blood banking. Available at:http://europa.eu.int/comm/european_group_ethics/docs/avis19_en.pdf. Retrieved September 29, 2005
27. Johnson FL. Placental blood transplantation and autologous banking-caveat emptor. J Pediatr Heme Oncol. 1997;19:183–186.
28. Annas GJ. Waste and longing―the legal status of placental blood banking. N Engl J Med. 1999;34:1521–1524.
29. Ecker JL, Greene MF. The case against private umbilical cord blood banking. Obstet Gynecol. 2005;105:1–2.
30. Greene MF, Cefalo RC. Obstetricians' perspectives on umbilical cord blood storage. Cancer Res Ther Control. 1999;8:341–343.
31. Burgio GR, Gluckman E, Locatelli F, et al.. Ethical reappraisal of 15 years of cord blood transplantation. Lancet. 2003;361:250–252.
32. Koylka P, Ivanyi P, Bruer-Vriesendorp BS. Preservation of immunological and colony-forming capacities of long-term (15 years) cryopreserved cord blood cells. Transplantation. 1998;65: 1275-1278.
33. Broxmeyer HE, Srour EF, Hangoc G, et al. High-efficiency recovery of functional hematopoietic progenitor and stem cells from human cord blood cryopreserved for 15 years. Proc. Natl Acad USA. 2003;100:645-650.
34. American Academy of Pediatrics Section on Hematology/Oncology: Cord Blood Banking for Potential Future Transplantation. Pediatrics. 2007;119:165–170.
35. American College of Obstetricians and Gynecologists . Routine storage of umbilical cord blood for potential future transplantation. ACOG Committee Opin. 1997;183:1–3.
36. European Group on Ethics in Science and New Technologies. Ethical aspects of umbilical cord blood banking. http://europa.eu.int/comm/european_group_ethics December 16, 2005.
37. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists Scientific Advisory Committee. Umbilical cord blood banking. Opinion paper 2. Available at: http://www.rcog.org.uk/index.asp?PageID_545. Retrieved September 29, 2005
38. French National Consultative Ethics Committee for Health and Life Sciences. Umbilical cord blood banks for autologous use and or for research. Opinion #74. Available at: http://www.ccneethique.fr/english/avis/a_074p3.htm. Retrieved September 29, 2005.
39. Samuel GN, Kerridge IH, O'Brien TA. Umbilical cord blood banking: public good or private benefit? Med J Aust. 2008 May 5;188(9):533-5.
40. Kato S, Nishihira H, Hara H, Kato K, Takahashi T, Sato N, Kodera Y, Saito H, Sato H, Takanashi M.. Cord blood transplantation and cord blood bank in Japan. Bone Marrow Transplant. 2000 May;25 Suppl 2:S68-70.

Sarah Wardhani, mahasiswa program master di Graduate School of Pharmaceutical Sciences, Department of Pharmacology, Tohoku University, Japan. Email: A6YM1082@cs.he.tohoku.ac.jp